Masuk

Senin, 15 Oktober 2012

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS


UPAYA MENINGKATKAN SEMANGAT BELAJAR PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN FIQIH MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING
(Studi Tindakan di Kelas VII MTs NEGERI KENDAL)

ABSTRAK
Penelitian ini menggunakan studi tindakan (action research) pada peserta didik kelas VII MTs Negeri Kendal. Dari hasil observasi secara langsung melalui pra siklus penelitian tindakan dapat diketahui bahwa guru mata pelajaran fiqih belum sepenuhnya mengedepankan pembelajaran aktif. Hal ini terbukti dengan adanya hasil belajar peserta didiknya yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM).
Dengan metode satu arah itu peserta didik cenderung pasif. Hal ini dapat dilihat dari kesiapan dan keaktifan pada saat KBM berlangsung kesiapan dan keaktifan peserta didik dalam KBM menggambarkan semangat untuk mengikutinya. Peneliti menerapkan model pembelajaran dengan berbasis CTL yaitu pada kelas VII B yang berjumlah 27 peserta didik.
Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap: pra siklus, siklus 1, dan siklus 2.
a.      Pada tahap pra siklus semangat belajar peserta didik, prosentasenya 61%, rata-rata tes 63,85.
b.      Siklus 1, semangat belajarnya 68,57%, rata-rata tes 67,63.
c.      Siklus 2, semangat belajarnya 77,14%, rata-rata tes 74,30.
Dari penelitian tersebut ternyata masih ada siswa yang nilai skor tesnya di bawah KKM, yaitu dikarenakan kondisi keluarga yang tidak mendukung dan tingkat SQ yang rendah.

A.    Latar Belakang
Adanya anggapan bahwa fiqih hanyalah pelajaran yang dihafal dan tidak termasuk pelajaran yang menentukan saat akhir sekolah. Inilah yang membuat peserta didik statis dan kurang berprestasi.
Fiqih yang merupakan dari bagian PAI tentu dalam pengajarannya guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengembangkan sistem belajar mengajar secara kreatif, imajinatif, menguasai metode penyampaian yang mampu memotivasi siswa, proses KBM yang menyenangkan.
Ketaatan siswa untuk mengikuti pelajaran PAI, pada umumnya karena paksaan / kewajiban dan ini berakibat pada sasaran keberhasilannya. Di sisi lain apa yang diperoleh siswa dari guru agama seringkali tidak mencerminkan perkembangan pendekatan dengan yang mereka alami dalam kehidupan masyarakat.
Seorang guru berusaha untuk merancang konsep pembelajaran di kelas yang mampu membangkitkan semangat peserta didik. Dengan kata lain aktivitas belajar dapat meningkat bila konsep dan program pembelajaran disusun dengan baik.
Berbicara mengenai peserta didik dalam proses KBM bahwa semangat mereka dalam melaksanakan tugas guru dirasa masih belum sesuai dengan kompetensi yang diharapkan, yaitu mampu belajar mandiri, mengembangkan ide dan memiliki kemampuan berfikir tinggi. Hal ini akan berpengaruh terhadap hasil belajarnya.
Mata pelajaran fiqih cenderung menghafal daripada mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran ini masih sangat bergantung oleh seorang guru.
Pengalaman pembelajaran tersebut menumbuhkan demikian baru bagaimana hal yang kurang baik itu dapat diubah untuk diperbaiki kemudian muncul suatu gagasan untuk berkolaborasi mencari solusi.
Model pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) ialah model pembelajaran dengan diberi kegiatan yang langsung mempraktekkan dengan dunia nyata.
B.    Rumusan Masalah
1.       Bagaimana pembelajaran fiqih melalui model pembelajaran CTL di kelas VII MTs Negeri Kendal?
2.       Apakah pembelajaran fiqih CTL dapat menumbuhkan semangat belajar kelas VII MTs Negeri Kendal?

C.    Kajian Teoritik dan Hipotesis Tindakan
1.       Kerangka Teoritik
Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar di mana guru menghadirkan situasi nyata ke dalam kelas dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat dan keluarga.
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual sangat melibatkan siswa secara penuh dalam proses pembelajaran dan siswa terdorong untuk aktif mempelajari materi sesuai dengan tema yang akan dipelajari.
Ada beberapa hal yang harus dipahami tentang belajar dalam konteks CTL:
1)      Belajar bukanlah menghafal, tetapi proses membangun pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang dimiliki.
2)      Belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta-fakta.
3)      Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap.
Pembelajaran dengan menggunakan CTL bertujuan untuk membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari suatu permasalahan ke permasalahan yang lain, atau dari satu konteks ke konteks yang lain.
Model pembelajaran ini dapat menimbulkan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan mereka akan menemukan makna belajar yang sebenarnya. Dalam konsep pembelajaran ini, guru sebenarnya tidak dapat “memberikan” pendidikan kepada pelajar, tetapi pelajar itu sendiri yang memperolehnya tanpa keaktifan pelajar hasil belajar tidak akan tercapai.
Kelas yang berbasis kontekstual, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok belajar yang anggotanya heterogen, agar mereka dapat bertukar pikiran, menyelesaikan masalah dulu. Untuk membuat siswa agar aktif sejak awal yaitu dengan membuat team agar siswa saling kenal dan terciptalah semangat kerjasama.
Dalam kegiatan learning community, siswa diharapkan akan berwawasan luas karena satu sama lain saling membantu bekerja sama dan berinteraksi untuk memecahkan masalah.
Metode yang dapat digunakan untuk menerapkan pendekatan pembelajaran kontekstual adalah ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi (gerakan shalat yang benar), dan metode latihan atau drill (membaca doa menjelang pelajaran dimulai).
2.       Hipotesis
a.       Pembelajaran dengan pendekatan CTL dapat menumbuhkan semangat peserta didik untuk mencapai kompetensi dasar dalam pembelajaran fiqih.
b.      Pembelajaran CTL dapat meningkatkan keaktifan dalam pembelajaran dan hasil peserta didik.

D.    Metodologi
1.       Subjek Penelitian
Subjek yang akan diteliti ialah peserta didik kelas VII MTs Negeri Kendal yang berjumlah 27 siswa.

2.       Model Penelitian
Peneliti memilih model Spiral Kemms dan Taggart yang terdiri dari beberapa siklus dalam pembelajaran berdasarkan refleksi mengenai hasil dari tindakan-tindakan pada siklus sebelumnya. Di mana siklus berdiri dari empat tahapan meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

3.       Variabel Penelitian
Variabel indikator dalam penelitian ini meliputi:
a.       Kesiapan menerima pelajaran.
b.      Keaktifan peserta didik.
c.       Hasil belajar peserta didik.

4.       Metode Pengumpulan Data
1)      Dokumentasi
Yakni digunakan untuk mengetahui dan mendaftarkan daftar nama peserta didik yang menjadi sampel penelitian.
2)      Observasi
Peneliti dalam mencari data dengan terjun langsung ke lapangan terhadap objek yang diteliti.
3)      Lembar Kerja
Dengan memberikan soal-soal yang diberikan kepada peserta didik pada tiap siklus yang bertujuan untuk mengetahui keaktifan dan keterampilan peserta didik dalam proses pembelajaran.
4)      Wawancara
Peneliti mewawancarai seorang guru sebagai mitra kerja yaitu Bapak Nur Syahid, M.Ag., yang mengampu bidang studi fiqih.
5)      Tes
Tes oleh peneliti digunakan untuk mendapatkan hasil belajar peserta didik yang telah melakukan pembelajaran fiqih melalui pembelajaran CTL sebagai evaluasi setelah pembelajaran berlangsung.

E.    Analisis Hasil Penelitian
1.       Pra Siklus
Pelaksanaan pembelajaran pra siklus untuk kelas VII yang diampu oleh Bapak Nur Syahid, S.Ag. dilaksanakan pada hari Jum’at, 28 Maret 2008. Pada tahap ini materi yang diajarkan adalah tentang shalat-shalat sunah yang meliputi shalat rawatib, dhuha dan tahiyyatul masjid. Pada tahap pra siklus ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh semangat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran fiqih sebelum diterapkannya metode CTL.
Berdasarkan hasil pengamatan pada pelaksanaan pra siklus, di kelas VII yang diampu oleh Bapak Nur Syahid, S.Ag. dalam proses pembelajarannya menggunakan metode ceramah dan pengerjaan lembar kerja siswa (LKS).
Observasi pada tahap pra siklus ini menggunakan instrumen observasi yang dipegang oleh peneliti dan lembar kerja soal yang dipegang oleh guru untuk dibagikan kepada peserta didik di akhir pembelajaran. Lembar kerja ini adalah sebagai tes kemampuan untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam memahami materi sebelum diterapkannya pendekatan kontekstual.
Dari hasil pengamatan pada tahap pra siklus bahwa peserta didik belum terlibat aktif secara penuh dalam proses pembelajaran, hal tersebut bis diketahui ketika terjadi proses pembelajaran, masih ada peserta didik yang berbicara sendiri / berbisik-bisik serta ada pula yang mengerjakan tugas mata pelajaran lain. Rendahnya semangat belajar peserta didik pada kelas VII menjadi objek penelitian dapat ditunjukkan dari prosentase hasil penilaian keaktifan dan kesiapan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran yaitu sebesar 61% yang berada di bawa standar ketentuan yaitu 65% dan juga berdasarkan dari hasil tes akhir yang dilakukan, didapat bahwa rata-rata hasil belajar pada pra siklus yaitu 63,85% yang berada di bawah standar yaitu 65%. Dari data yang diperoleh pada tahap ini ada 15 siswa yang belum tuntas.
2.       Siklus 1
Pelaksanaan siklus 1 pada tanggal 4 April 2008. Pada siklus 1 ini observasi dilakukan di kelas VII dengan materi pembelajaran shalat jenazah. Solusi yang diperoleh dari tahap refleksi pra siklus digunakan sebagai suatu tindakan untuk mengatasi permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran fiqih di kelas kaitannya dengan meningkatkan semangat belajar peserta didik.
Hasil pengamatan yang diperoleh pada tahap siklus pertama bahwa peserta didik mulai ada peningkatan kesiapan belajar maupun keaktifannya dalam proses pembelajaran. Peningkatan tersebut dapat ditunjukkan dari prosentase hasil penilaian keaktifan dan kesiapan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran yaitu sebesar 68,57% dan di atas ketentuan yang telah ditetapkan yaitu 65%.
Berkaitan dengan hasil tes akhir yang dilakukan di akhir pembelajaran pada siklus 1, didapat bahwa rata-rata hasil belajar pada siklus 1 yaitu 67,63 yang berada di atas standar yang ditentukan yaitu di atas 65. Dari data yang diperoleh ada 9 peserta didik yang belum tuntas. Bbd dengan sebelumnya (pra siklus) yaitu ada 15 peserta didik yang belum tuntas.
Perbandingan Jumlah Skor dan Prosentase Semangat Belajar
pada Tahap Pra Siklus dan Siklus 1
No
Pelaksanaan Siklus
Jumlah Skor
Prosentase (%)
1
2
Pra Siklus
Siklus 1
43
48
61
68,57

Perbandingan Rata-Rata Tes Akhir
pada Tahap Pra Siklus dan Siklus 1
No
Pelaksanaan Siklus
Rata-Rata
1
2
Pra Siklus
Siklus 1
63,85
67,63

3.       Siklus 2
Sebagaimana pada tahap pra siklus dan siklus 1, pada siklus 2 ini observasi dilakukan oleh peneliti dan kolaborator / guru untuk berupaya meningkatkan semangat belajar peserta didik yang berdampak pada hasil belajar dan pemahaman terhadap materi pelajaran yang menjadi pokok bahasan. Pada siklus 2 materi ajarnya adalah “shalat jamaah” pada tanggal 18 April 2008. Tindakan yang telah dirumuskan pada siklus 1 diterapkan pada siklus 2.
Dari hasil pengamatan pada tahap siklus 2, dapat disimpulkan bahwa peserta didik hampir secara keseluruhan terlibat aktif dalam proses pembelajaran, baik secara individu maupun kelompok hampir keseluruhan terlibat aktif bertanya, menulis ketika ada keterangan / informasi baru yang diterima dari guru maupun sumber lain, dan menyelesaikan tugas sehingga pada siklus ini dalam proses pembelajaran tidak sepenuhnya pada guru, melainkan peserta didik yang lebih aktif untuk berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk didiskusikan dalam kelas. Hal ini ditunjukkan adanya peningkatan dari hasil observasi keaktifan dan kesiapan dalam pembelajaran yaitu dengan prosentase 77,14% yang sudah berada di atas ketentuan yang ditetapkan.
Dan berkaitan dengan hasil tes akhir yang dilakukan di akhir pembelajaran pada siklus 2 didapat bahwa rata-rata hasil tes pada siklus ini yaitu 74,3.
Walaupun masih ada 3 peserta didik yang pasif dalam pembelajaran yaitu Muhammad Yanuar Abdillah, dan Dilan Wiranata setelah diteliti lebih lanjut ternyata anak tersebut lemah berpikir dan Maulidia Hapsari Putri ternyata anak tersebut mempunyai masalah dalam keluarganya.




Perbandingan Jumlah Skor dan Prosentase Semangat Belajar
pada Tahap Pra Siklus, Siklus 1 dan Siklus 2
No
Pelaksanaan Siklus
Jumlah Skor
Prosentase (%)
1
2
3
Pra Siklus
Siklus 1
Siklus 2
43
48
54
61
68,57
77,14

Perbandingan Rata-Rata Tes Akhir
pada Tahap Pra Siklus, Siklus 1 dan Siklus 2
No
Pelaksanaan Siklus
Rata-Rata
1
2
3
Pra Siklus
Siklus 1
Siklus 2
63,85
67,63
74,30

F.     Kesimpulan
1.       Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa;
-          Keberhasilan penerapan model pembelajaran melalui pendekatan kontekstual sebagai upaya untuk meningkatkan semangat belajar peserta didik kelas VII MTs Negeri Kendal. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perubahan dalam proses pembelajaran yang meliputi kesiapan dan keaktifan pada saat proses pembelajaran, juga ditunjukkan adanya peningkatan nilai skor tes akhir dari masing-masing siklus, prosentase peningkatan semangat belajar dari pra siklus, siklus 1, sampai siklus 2 yaitu dari 61% meningkat menjadi 68,52% dan meningkat menjadi 77,14%. Hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan di atas rata-rata (65%). Sedangkan peningkatan tes akhir dari pra siklus, siklus 1, sampai siklus 2 dapat dilihat dari nilai rata-rata pada masing-masing siklus yaitu 63,85 meningkat menjadi 74,30. Dan peningkatan tersebut di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 65.
-          Penelitian tindakan atau PTK yang dilaksanakan oleh peneliti di MTs Fatahillah dengan menerapkan model pembelajaran oleh peneliti contextual teaching and learning atau CTL membawa dampak yang positif terhadap aktivitas belajar peserta didik terutama mengurangi kejenuhan dan sebagai variasi pembelajaran.
-          Pembelajaran fiqih dengan pendekatan kontekstual merupakan salah satu cara untuk meningkatkan semangat belajar peserta didik yaitu pendekatan yang berusaha untuk mengkaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata peserta didik guna mencapai kompetensi yang diharapkan.

  1. Saran
-          Dalam proses PBM hendaknya guru harus benar-benar paham, menyiapkan pembelajaran dengan sebaik mungkin agar materi tersampaikan secara maksimal.
-          Hendaknya pembelajaran dirancang sedemikian rupa dan memperkaya variasi mengajar. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi kejenuhan yang dialami oleh peserta didik.

  1. Penutup
Demikianlah makalah kami susun. Kami sadari banyak kesalahan baik dalam penulisan maupun pemaparan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar